Apakah harus seperti ini, hidupku?
Berlayar menuju daratan, tapi hanya asap debu yang dapat kulihat…
Apakah harus seperti ini menjalani hidup sebagai anak cerdas?
Menguras otak, bagaikan cucian baju yang baru saja dijemur
Mengikuti lomba, bagaikan sebuah robot yang menulis-nulis
Ku ingin hidup seperti anak biasa, bukan anak cerdas sekali
Aku ingin liar, seperti sebuah singa yang mengaum-aum di hutan belantara
Apakah anak cerdas adalah sebuah robot?
Apakah diriku sekarang, adalah robot?
Hei, hei… lihatlah.
Kuberlayar menuju lautan kembali, tapi ada sebuah tembok besar dan tebal
Yang menghalangi perjalananku.
Kembali ke darat.
Seperti yang dulu, hanyalah debu dan asap bertebaran di mana-mana.
Kota polusi.
Kota polusi, bukan hanya itu saja.
Aku di kota ini, hanya sering belajar, dan belajar.
Aku tidak bisa main.
Aku tidak bisa bergembira bersama-sama teman-temanku.
Aku bagaikan sebuah robot yang dipaksa bekerja.
Tak berperasaan.
Oh, ternyata ada lomba di dunia ini.
“Ayo, kamu harus ikut.”
Ucap seorang guru.
Sang murid tidak tega berkata,
“Ah, tidak mau.”
Malah, ia menjawab, “Iya, Bu.”
Dengan lembutnya.
…
TIDAK! AKU TIDAK MAU!
Hidupku ini, aku tidak bisa mengendalikannya.
Aku terpaksa.
………
Selamat
Aku ini hanyalah seorang robot.
Robot yang hanya bisa belajar dan menulis.
Ya, bagaimana aku lepas dari dunia ini?
….
-
….
Bagaikan aku di dalam sebuah dunia,
Yang hanya 1 orang dapat menolongku..
Stres?
@Cynanthia
Ya… bisa dibilang
!